Kompas TV kolom opini

Iftar

Kompas.tv - 24 Maret 2025, 01:00 WIB
iftar
Buka puasa di Wisma KBRI Takhta Suci (Sumber: Erick via triaskredensialnews.com)

Oleh: Trias Kuncahyono

Beberapa hari lalu, saya menghadiri acara buka puasa (iftar) yang diadakan oleh Kedutaan Maroko untuk Takhta Suci. Maroko adalah salah satu dari 185 negara dan organisasi internasional yang memiliki hubungan diplomatik dengan Takhta Suci. Hubungan mereka secara resmi dimulai tanggal 15 Januari 1976 (hubungan diplomatik Takhta Suci dengan Indonesia, mulai 13 Maret 1950).

Iftar petang itu terasa sangat istimewa. Sebab, selain yang datang dari berbagai kalangan–diplomat, usahawan, cendikiawan, wartawan, rohaniwan, ulama, juga hadir PM Takhta Suci Kardinal Pietro Parolin–juga ada serangkaian pidato dari tokoh Muslim, Katolik, dan Yahudi. Tentu, juga pidato dari duta besar Maroko. Pidatonya pun dalam ragam bahasa: Italia, Inggris, dan Arab.

Semua tokoh yang pidato–termasuk Kardinal Parolin–berbicara tentang persaudaraan, brotherhood, dan mengutip ensiklik Paus Fransiskus Fratelli Tutti, Sulla Fraternita E L’Amicizia Sociale,  “Semua Saudara, tentang Persaudaraan dan Persahabatan Sosial,” tahun 2019?. Semua mengakui bahwa agama-agama itu melayani persaudaraan di dunia bukan memecah-belah.

Keberagaman–termasuk keberagaman Indonesia–adalah kehendak Allah. Karena itu, keberagaman adalah anugerah yang pantas disyukuri. Kalau Allah, Sang Pencipta menghendaki semua sama, niscaya hal itu dengan mudah terwujud.

Baca Juga: SEJAK TAHUN 1300

Tetapi, dalam kenyataan keseharian yang terjadi justru sebaliknya: ada yang berusaha mengingkarinya. Tidak pula bisa dipungkiri ada manipulasi, ada deformasi konsep-konsep demokrasi, kebebasan, keadilan, ada politisasi agama; hilangnya makna komunitas sosial dan sejarah.

Sangat mencolok juga ada cinta diri dan ketidakpedulian terhadap kesejahteraan bersama dan lebih mementingkan kesejahteraan keluarga, kelompok, dan golongan sehingga menambah angka kemiskinan, pengangguran, serta kecemburuan sosial. Masih ada rasisme dan penolakan terhadap imigran. Itu semua bentuk dari pengingkaran terhadap keberagaman.

***

PM Vatikan Kardinal Pietro Parolin dan Dubes Maroko Rajae Naji Mekkaoui (Sumber: Vatican News/ANZA)

Maka, acara buka puasa oleh Maroko itu mengingatkan kunjungan apostolik Paus Fransiskus ke Maroko, 30 – 31 Maret 2019. Ini kunjungan kedua seorang paus  ke Maroko. Yang pertama dilakukan pada tahun 1985 oleh Paus Santo Yohanes Paulus II atas undangan Raja Hassan II. Kunjungan kedua dilakukan tak lama setelah pertemuan Paus Fransiskus dengan Imam Besar al-Azhar, Kairo, Ahmed el-Tayeb di Abu Dhabi.

Saat itu di Abu Dhabi, 4 Februari 2019, kedua tokoh besar ini menandatangani Deklarasi Abu Dhabi: Human Brotherhood, for World and Common Coexistence, “Dokumen tentang Persaudaraan Manusiawi bagi Kedamaian Dunia dan Hidup Bersama.” Bisa dikatakan “turunannya” adalah Deklarasi Istiqlal, yang ditandatangani Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar (sekarang Menteri Agama)

Deklarasi Abu Dhabi, menjadi tonggak dasar dialog antaragama. Kata Paus, atas nama persaudaraan manusiawi, dialog diambil sebagai suatu jalan, kerja sama bersama sebagai perintah, dan pemahaman satu sama lain sebagai metode dan ukuran. Maka, kunjungan Paus Fransiskus ke Maroko yang disambut dengan penuh sukacita oleh Raja Maroko, Muhammad VI, adalah lanjutan untuk membangun jembatan persaudaraan antara umat Kristen dan Muslim.

Kami memberikan ruang untuk Anda menulis

Bagikan perspektif Anda, sumbangkan wawasan dari keahlian Anda, dan berkontribusilah dalam memperkaya pemahaman pembaca kami.

Daftar di sini



Sumber : triaskredensialnews.com

Berikan Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE



KOMPASTV SHORTS


Lihat Semua

BERITA LAINNYA



FOLLOW US




Gabung ke Channel WhatsApp KompasTV untuk update berita terbaru dan terpercaya.


VIDEO TERPOPULER

Close Ads x