Dikutip dari The Guardian, ia merasa negaranya tengah menuju “neraka”, dan pemerintahan Bongbong Marcos kekurangan kebijakan yang jelas untuk mengadang inflasi dan keamanan makanan.
Duterte mengatakan ia merasa dimanfaatkan setelah bergabung dengan Marcos pada pemilu 2022.
Tensi keduanya meningkat setelah investigasi yang menuduh Duterte telah melakukan penyalahgunaan dana publik, sesuatu yang dibantahnya.
Begitu juga dengan persidangan parlemen terkait “perang melawan narkoba”, yang menduga kantor Rodrigo Duterte membayar hadiah hingga USD17.000 atau setara Rp263 juta bagi polisi yang membunuh terduga pengedar narkoba.
Rodrigo Duterte membantah mengizinkan pembunuhan tersebut.
Tetapi ia berulang kali mengancam para pengedar narkoba dengan kematian sebelum dan sesudah masa kepemimpinannya.
Sara Duterte pun mengancam Bongbong Marcos jika ancaman politik terhadapnya tak dihentikan, ia akan membuang jasad eks diktator Ferdinand Marcos ke laut.
Baca Juga: Rusia Khawatirkan Dampak Pembunuhan Pemimpin Hamas Yahya Sinwar terhadap Timur Tengah
“Saya akan ke sana. Saya akan membawa jasad ayah Anda dan membuangnya ke Laut Barat Filipina,” kata Sara Duterte.
Hal ini jelas menjadi ironi, karena pada 2016 ketika hubungan kedua keluarga masih baik, Rodrigo Duterte menimbulkan kontroversi dengan memberikan pemakaman Ferdinand Marcos Sr dengan penghormatan militer.
Sekretaris Komunikasi Kepresidenan Filipina Cesar Chavez, mengatakan Bongbong Marcos tak akan merespons ancaman Sara Duterte.
Sumber : The Guardian
Gabung ke Channel WhatsApp KompasTV untuk update berita terbaru dan terpercaya.