Kompas TV internasional kompas dunia

Horor di Rumah Sakit Gaza: Cerita Dokter Kewalahan Terima Anak-Anak yang Dibantai Israel

Kompas.tv - 26 Maret 2025, 05:21 WIB
horor-di-rumah-sakit-gaza-cerita-dokter-kewalahan-terima-anak-anak-yang-dibantai-israel
Pasien keluarga Palestina menunggu perawatan usai terluka akibat pengeboman Israel di Khan Yunis, selatan Jalur Gaza, 18 Maret 2025. (Sumber: Mohammad Jahjouh/Associated Press)
Penulis : Ikhsan Abdul Hakim | Editor : Deni Muliya

GAZA, KOMPAS.TV - Rumah sakit di Jalur Gaza, Palestina kewalahan menerima korban anak yang terus berjatuhan akibat pengeboman Israel.

Korban cedera dan terbunuh terus berjatuhan sejak Israel secara sepihak mengakhiri gencatan senjata Gaza pada 18 Maret lalu.

Dokter tamu di Rumah Sakit Nasser, Sakib Rokadiya menyebut pihaknya selalu bersiap menangani korban begitu melihat kilatan rudal Israel. 

Dokter asal Inggris Raya itu terkejut dengan banyaknya korban yang diantar masih anak-anak.

Keluarga korban membawa pasien atau jenazah, sebagian dalam kondisi tidak utuh, dengan berlari atau dengan gerobak keledai.

"Anak demi anak, pasien muda demi pasien muda. Mayoritas, mayoritas (korban) yang sangat besar adalah perempuan, anak-anak, dan lanjut usia," kata Rokadiya dikutip Associated Press, Selasa (25/3/2025).

Rumah Sakit Nasser menangani lebih dari 300 korban sejak Israel mengakhiri gencatan senjata.

Menurut data Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, Israel telah membunuh hampir 800 orang sejak mengakhiri gencatan senjata.

Baca Juga: Israel Setuju Fasilitasi Pemindahan Warga Palestina dari Gaza, Upaya Pembersihan Etnis Kian Jelas

Instalasi gawat darurat Rumah Sakit Nasser kalut pada Senin (24/3) dini hari usai Israel mengebom tenda pengungsian dan rumah warga di Khan Yunis dan Rafah.

Dengan peralatan seadanya, tenaga medis berjibaku menyelamatkan korban yang luka parah.

Dokter anak asal Amerika Serikat (AS), Tanya Haj-Hassan menyebut seorang suster berusaha melakukan resusitasi jantung dan paru kepada seorang anak yang jantungnya tertembus serpihan rudal.

Seorang pemuda dengan lengan terputus menunggu ditangani. Seorang anak sekitar 4 tahun yang dibopong kakaknya kehilangan kaki.

Haj-Hassan menuturkan, ruang gawat darurat Rumah Sakit Nasser saat itu dipenuhi darah, serpihan tulang dan jaringan manusia.

"Saya kewalahan, berlari dari sudut ke sudut, mencoba menentukan mana yang perlu diprioritaskan, siapa yang perlu dioperasi, siapa yang sudah tidak dapat diselamatkan," kata Haj-Hassan.

Kami memberikan ruang untuk Anda menulis

Bagikan perspektif Anda, sumbangkan wawasan dari keahlian Anda, dan berkontribusilah dalam memperkaya pemahaman pembaca kami.

Daftar di sini



Sumber : Kompas TV

Berikan Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE



KOMPASTV SHORTS


Lihat Semua

BERITA LAINNYA



FOLLOW US




Gabung ke Channel WhatsApp KompasTV untuk update berita terbaru dan terpercaya.


VIDEO TERPOPULER

Close Ads x