MANILA, KOMPAS.TV — Wakil Presiden Filipina Sara Duterte mengatakan pada Jumat (7/2/2025) bahwa pengacaranya tengah mempersiapkan pertarungan hukum dalam persidangan pemakzulannya.
Tetapi, ia menolak mengatakan apakah akan mempertimbangkan opsi pengunduran diri, sehingga dapat mencegah kemungkinan hukuman yang akan menghalanginya mencalonkan diri sebagai presiden di masa mendatang.
"Kami masih terlalu jauh dari masalah-masalah itu," katanya. Ia menambahkan bahwa sejumlah besar pengacara telah menyatakan akan membelanya dalam kasus pemakzulan ini.
Ia menyatakan kembali bahwa ia terbuka untuk mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2028. Namun demikian, kini popularitasnya diketahui telah menurun dalam survei independen, meski ia masih dianggap sebagai calon presiden terkemuka.
"Kami serius mempertimbangkannya tetapi sulit untuk memutuskan tanpa angka-angka," katanya.
Baca Juga: Reaksi Sekutu Wapres Sara Duterte Usai Dimakzulkan DPR Filipina: Akan Dihadapi dengan Senyuman
Sara Duterte berbicara untuk pertama kalinya sejak parlemen memakzulkannya pada Rabu atas serangkaian tuduhan pidana, termasuk merencanakan pembunuhan Presiden Ferdinand Marcos Jr., yang sekali lagi dibantahnya. Marcos adalah calon wakil presidennya dalam pemilihan umum 2022, tetapi mereka kemudian berselisih paham.
Pada konferensi pers, Sara Duterte menggarisbawahi kesulitan ekonomi dan mengatakan kehidupan warga Filipina kini menjadi jauh lebih buruk karena biaya hidup yang meroket.
"Tuhan selamatkan Filipina," kata Sara Duterte seperti dikutip dari The Associated Press. Ia kemudian meminta para pendukungnya untuk menggunakan media sosial guna mengekspresikan sentimen mereka, alih-alih menggelar protes jalanan.
Menurut para pendukung petisi pemakzulannya, kasus pemakzulan ini difokuskan pada dugaan ancaman terhadap Marcos, penyimpangan dalam penggunaan dana jabatan, dan kegagalan Duterte untuk melawan agresi China di Laut China Selatan yang disengketakan. Senat akan menangani kasus tersebut saat bersidang lagi pada bulan Juni mendatang.
Baca Juga: Sara Duterte Dimakzulkan! Nasibnya Kini di Tangan Senat Filipina
Kemungkinan hukuman yang akan diterima Duterte dan larangan baginya untuk memangku jabatan lagi, akan menjadi kemunduran besar bagi salah satu keluarga politik paling terkemuka di negara itu yang dianggap condong ke China.
Ayah Wapres Sara Duterte, yaitu mantan Presiden Rodrigo Duterte, selama masa jabatannya diketahui telah memelihara hubungan yang erat dengan Presiden China Xi Jinping dan pemimpin Rusia Vladimir Putin. Ia pun pernah mengancam akan mengakhiri keterlibatan militer AS di Filipina.
Berbeda dengan Rodrigo Duterte, Presiden Marcos lebih condong pada AS. Ia kini meningkatkan hubungan pertahanan dengan Washington, yang merupakan sekutu lama Manila. Hubungan pertahanan dengan AS terutama dilakukan saat Filipina menghadapi tindakan agresif China yang semakin meningkat di perairan Laut China Selatan.
Bagikan perspektif Anda, sumbangkan wawasan dari keahlian Anda, dan berkontribusilah dalam memperkaya pemahaman pembaca kami.
Sumber : The Associated Press
Gabung ke Channel WhatsApp KompasTV untuk update berita terbaru dan terpercaya.