Apa Itu RedNote? Aplikasi Pengganti TikTok yang Mendadak Booming di AS
Teknologi | 15 Januari 2025, 14:40 WIB
WASHINGTON, KOMPAS.TV - Dengan kemungkinan dilarangnya TikTok dalam beberapa hari lagi, banyak pengguna di Amerika Serikat (AS) yang mencari platform media sosial alternatif untuk membantu mereka mengikuti budaya pop atau menyediakan jenis video hiburan berdurasi pendek.
TikTok berpeluang untuk dilarang penggunaannya pada 19 Januari 2025 nanti di bawah undang-undang yang memaksa platform tersebut untuk memutuskan hubungan dengan perusahaan induk yang berbasis di China, ByteDance, atau menutup operasionalnya di AS.
Nasib platform media sosial ini akan diputuskan oleh Mahkamah Agung, yang minggu lalu mendengarkan argumen lisan dalam tantangan hukum terhadap undang-undang tersebut dan tampaknya cenderung untuk mendukung undang-undang tersebut.
Baca Juga: Warga AS Banjiri Medsos China Xiaohongshu, Protes Rencana Pemerintah Blokir TikTok
Sementara itu, Presiden terpilih Donald Trump telah meminta para hakim untuk menangguhkan undang-undang tersebut agar dia dapat merundingkan "penyelesaian politik" setelah dia menjabat.
Banyak aplikasi yang memiliki fitur serupa dengan TikTok, namun dalam beberapa hari terakhir, ada aplikasi China lain bernama Xiaohongshu, yang dikenal sebagai RedNote dalam bahasa Inggris, tiba-tiba mendapatkan popularitas.
Sementara TikTok yang tengah berjuang untuk bertahan, RedNote tiba-tiba booming dan telah naik ke posisi No. 1 untuk aplikasi gratis di Apple Store AS.
Apa Itu RedNote?
Dilansir dari TechCrunh, Xiaohongshu, dikenal juga sebagai RedNote, diluncurkan pada 2013 dan menjadi pilihan menarik bagi kreator yang mencari alternatif TikTok.
Aplikasi ini menggabungkan tampilan mirip Pinterest, dianggap sebagai versi Instagram dari China, dan menawarkan fitur belanja sosial yang menjadi daya tarik utamanya.
Baca Juga: Rencana Pemblokiran TikTok 19 Januari di AS Ancam Masa Depan Jutaan Kreator Konten
Popularitas RedNote terus meningkat, terutama selama pandemi Covid-19, ketika aplikasi ini berhasil menarik perhatian konsumen muda di China.
Saat ini, RedNote memiliki 300 juta pengguna aktif bulanan, dengan 79% di antaranya adalah perempuan. Bahkan, aplikasi ini kini menjadi salah satu yang paling populer di AS.
Sebelum lonjakan popularitasnya, aplikasi ini telah diunduh sekitar 3,2 juta kali di AS sejak Januari 2017, berdasarkan data Appfigures.
Kesuksesan ini juga menarik minat para investor besar. Hingga kini, RedNote telah mengumpulkan pendanaan ventura sebesar $917 juta, dengan dukungan dari perusahaan seperti Tencent, Alibaba, ZhenFund, DST, dan HongShan (sebelumnya Sequoia China), bersama 13 investor lainnya.
Perusahaan ini dilaporkan bernilai 17 miliar dolar AS atau sekitar 277 triliun rupiah setelah penjualan saham sekunder pada 2024.
Menurut Bloomberg, RedNote diproyeksikan menghasilkan keuntungan lebih dari 1 miliar dolar AS pada 2024, setelah mencatat penjualan kuartalan sebesar 1 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya, seperti dilaporkan Financial Times.
Pertumbuhan ini tidak hanya mencerminkan potensi besar aplikasi tersebut, tetapi juga membuka peluang menarik bagi para kreator.
Namun, masih belum jelas apakah RedNote dapat mempertahankan momentum ini.
Jika popularitasnya terus meningkat, dampaknya terhadap pengawasan otoritas AS menjadi pertanyaan, terutama mengingat aplikasi ini berasal dari China dan belum menunjukkan klaim signifikan untuk beroperasi di AS.
Baca Juga: Mengapa AS dan Sejumlah Negara Melarang TikTok? Ini Alasannya
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Gading-Persada
Sumber : Associated Press/TechCrunh