> >

Ini Jenderal Purnawirawan Polri yang Dinilai Lemkapi Buat Kasus Kematian Brigadir J Tambah Gaduh

Politik | 3 Agustus 2022, 19:21 WIB
Direktur Eksekutif Lemkapi Edi Saputra Hasibuan saat dihubungi di program Kompas Petang, KOMPAS TV, Rabu (3/8/2022). (Sumber: Kompas TV)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi) menyayangkan sejumlah jenderal purnawirawan Polri yang membuat kasus kematian Brigadir Yosua atau Brigadir J semakin gaduh.

Direktur Eksekutif Lemkapi Edi Saputra Hasibuan menyatakan seharusnya para jenderal purnawirawan Polri ini bisa memberikan pengalamannya untuk membantu penyidik dalam menuntaskan kasus baku tembak dan kematian Brigadir J.

Menurut Edi salah satu komentar jenderal purnawirawan yang belakangan ini sering muncul di media yakni pernyataan dari mantan Kabareskirm Susno Duadji.

Baca Juga: Ayah Brigadir J Berterima Kasih kepada Presiden Jokowi yang Sampai 3 Kali Beri Perhatian

Semisal, pernyataan Susno soal kasus tersebut mudah dan tidak perlu lama ditangani oleh Polri. 

Ia menilai pernyataan Susno itu tidak membantu Polri dalam menyelesaikan kasus baku tembak dan kematian Brigadir J.

Pernyataan tersebut, sambung Edi, cenderung provokatif dan membingungkan publik. Padahal saat ini Polri butuh dukungan semua pihak, termasuk para purnawirawan akibat derasnya tekanan dan hujatan publik atas kematian Brigadir J.

"Yang menjadi masalah tentu saja jangan hanya berbicara di berbagai media, kami mengharapkan kehadiran mereka untuk bantu penyidik Polri, bantu tim khusus yang dibentuk Kapolri sehingga kasus ini cepat terungkap," ujar Edi saat dihubungi KOMPAS TV di program Kompas Petang, Rabu (3/8/2022).

Baca Juga: Lemkapi Sayangkan Ada Purnawirawan Jenderal Polri yang Cari Panggung di Kasus Kematian Brigadir J

Edi menambahkan sebagai seorang senior tentunya Susno Duadji memiliki pengalaman dalam mengungkap kasus.

Jika purnawirawan Komjen Polisi itu memiliki jiwa kebersamaan, tentunya pengalaman yang dimiliki dapat ditularkan kepada para juniornya. 

Terutama dalam mengungkap kasus baku tembak dan kematian Brigadrir J yang kini ditangani Polda Metro Jaya dan tim khusus bentukan Kapolri.

Baca Juga: Mantan Kabareskrim Polri Susno Duadji Angkat Bicara Soal Kasus Kematian Brigadir J

"Bagaimana pun juga para jenderal purnawirawan ini guru dari junior sekarang, tentu memiliki ilmu yang banyak dan perlu ditularkan kepada junionnya," ujar Edi. 

"Sekarang ini Polri butuh dukungan dari masyarakat termasuk pada senior purnawirawan polri," sambung Edi.

 

Sebelumnya mantan Kabareskrim Susno Duadji menilai kasus baku tembak ini bisa cepat diungkap. 

Ia mendorong penyidik untuk meneliti seluruh barang bukti, mulai dari pakaian korban, senjata api yang digunakan hingga proyektil yang ada di lokasi kejadian.

Baca Juga: Mantan Kabareskrim Sebut Wajar Masyarakat Curiga Ada Kejanggalan di Kasus Penembakan Brigadir J

Polri juga bisa meminta bantuan provider untuk mengetahui siapa saja pihak yang ada di TKP. Bahkan dapat meminta data dari handphone yang hilang.

Di sisi lain purnawirawan Komjen Pol ini menilai Bharada E merupakan orang yang "sakti". 

Penilaiannya itu saat melihat Bharada E mendapat kawalan dari senironya di kepolisian saat meminta bantuan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Bahkan ada anggota yang berpangkat perwira menengah ikut mengawal Bharada E.

Padahal, menurut Susno, Bharada atau Bhayangkara Dua merupakan Tamtama tingkat satu di Kepolisian.

Baca Juga: Mantan Kabareskrim Sebut Polri Sudah Prediksi Kasus Dugaan Pembunuhan Brigadir J Mengarah ke Siapa

Kemudian dari keterangan kepolisian, Bharada E disebut menembak ke arah Brigadir J dengan lima peluru dan mengenai tubuh Brigadir J, tetapi Bharada E lolos dari tujuh kali tembakan dari senjata api Brigadir J.

"Yang saktinya lagi saat terjadi adu tembak, Bharada E nembak lima peluru kena, kemudian dia ditembak tujuh peluru engga ada yang kena," ujar Susno Duadji, dikutip dari TribunJakarta.com.
 

Penulis : Johannes Mangihot Editor : Purwanto

Sumber : Kompas TV


TERBARU